Dampak Perubahan Iklim

Source:https://js.ugm.ac.id/2021/09/perubahan-iklim-1/

perubahan iklim disebut sebagai fenomena pemanasan global, dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil. pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emosi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yang melilit bumi. Kondisi ini menghasilkan panas matahari yang menaikan suhu 🔥 ☀

 Penyebab perubahan iklim

Ada beberapa faktor penyebab perubahan iklim yang terjadi secara global. Mengutip dari situs Indonesia Baik, berikut di antaranya:

1.efek gas rumah kaca

Source: https://pancaedu.tech/apa-itu-efek-rumah-kaca/

Banyak dari gas-gas ini terjadi secara alami, meski berbagai aktivitas manusia disekitarnya meningkatkan konsentrasinya di atmosfer, khususnya pada metana, karbon dioksida (CO2), gas berfluorinasi CO2 dan dinitrogen oksida sebagai gas rumah kaca yang paling umum diproduksi oleh aktivitas manusia serta bertanggung jawab atas 64% pemanasan global buatan manusia.

Konsentrasinya di atmosfer saat ini adalah 40% lebih tinggi jika dibandingkan saat industrialisasi dimulai dahulu, Gas rumah kaca lainnya sendiri dipancarkan dalam jumlah yang lebih kecil, tetapi mereka memerangkap panas jauh lebih efektif dibanding CO2, serta dalam beberapa kasus ribuan kali lebih kuat. Metana ini bertanggung jawab atas nitro oksida sebesar 6% dan 17% pemanasan global buatan manusia.

2. Pemanasan Global

Source: https://pascasarjana.umsu.ac.id/dampak-pemanasan-global/

Penyebab perubahan iklim lainnya berasal dari aktivitas pemanasan global. Pembangkit listrik dan instalasi industri lainnya ialah penghasil CO2 utama. Suhu rata-rata global saat ini sendiri adalah 0,85ºC lebih tinggi jika dibandingkan dengan akhir abad ke-19.

Masing-masing dari tiga dekade terakhir ini sendiri telah lebih hangat dibandingkan dekade sebelumnya sejak pencatatan mulai dilakukan yaitu pada tahun 1850an. Para ilmuwan iklim terkemuka mengemukakan pendapatnya mengenai penyebab pemanasan global adalah aktivitas manusia.

Hal ini sendiri telah diamati  sejak pertengahan abad ke-20. Peningkatan 2°C dibanding suhu pada masa pra-industri ini dinilai para ilmuwan sebagai ambang batas. Di mana kemudian terdapat risiko yang jauh lebih tinggi bahwa perubahan yang berbahaya serta berbagai bencana di lingkungan global kemungkinan akan terjadi. Karenanya hingga saat ini banyak diantara negara lain telah menanamkan kepada warganya tentang pentingnya menjaga pemanasan dibawah 2°C.

3. Peningkatan Gas Emisi

source: vectorstock.com/pinterest

Penyebab perubahan iklim yang kedua berasal dari peningkatan emisi yang diakibatkan oleh ulah manusia, misalnya saja pada Pembakaran minyak, batu bara, dan gas yang akan menghasilkan dinitrogen oksida dan karbon dioksida. Hal ini juga disebabkan oleh deforestasi atau penebangan hutan.

Pohon sendiri membantu mengatur iklim dengan menyerap CO2 dari atmosfer. Karenanya saat terjadi penebangan, efek menguntungkan kemudian hilang dan karbon yang tersimpan di pohon akan dilepaskan ke atmosfer, dan menambah efek rumah kaca di bumi. Selain itu peningkatan emisi juga disebabkan oleh meningkatnya jumlah peternakan, khususnya pada Sapi dan domba, dimana keduanya menghasilkan metana dalam jumlah besar saat mencerna makanan.

Tak hanya itu pupuk yang mengandung nitrogen juga menghasilkan emisi nitro oksida, Gas-gas ini berfluorinasi hingga kemudian menghasilkan efek pemanasan yang sangat kuat, yaitu hingga 23.000 kali lebih besar dibanding CO2.

Dampak perubahan Iklim

Pola cuaca merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan yang akan mempengaruhi tanaman, dan pangan, air yang kita konsumsi, tempat tinggal, serta berbagai aktivitas dan kesehatan manusia. Karenanya perubahan iklim benar-benar akan berdampak serius terhadap kehidupan. Musim kemarau berkepanjangan yang lebih panas termasuk diantaranya gelombang panas, intensitas hujan yang terus berkurang di musim kemarau, serta kekeringan parah, kaciw kemudian akan mengakibatkan naiknya air permukaan laut. Tentu saja perubahan iklim ini menimbulkan berbagai dampak negatif, diantaranya:

Kepunahan ekosistem

Source: cybersapient

Kemungkinan terjadinya kepunahan ekosistem yaitu pada spesies hewan dan tumbuhan adalah 20-30 persen hal ini terjadi jika bertambah CO2 di atmosfer serta kenaikan suhu rata-rata global sebanyak 1,5-2,5 derajat Celcius, yang kemudian akan turut meningkatkan tingkat keasaman laut. Hal ini kemudian akan berdampak negatif terhadap para organisme-organisme laut seperti misalnya pada terumbu karang, hingga berbagai spesies yang hidupnya bergantung terhadap organisme tersebut.

Fenomena bunga mekar di Antartika bunga🌺🌻🌹🌷 ❄🥶

Source: detik.com

Fenomena bunga mekar di Antartika terjadi karena adanya perubahan yang signifikan dari wilayah yang dulunya di dominasi oleh es ❄🥶 para Ilmuwan telah menemukan tumbuhan berbunga, lumut, dan ganggang menyebar dengan cara yang tidak pernah terjadi sebelumnya sementara luas es yang terapung semakin menyusut, kenaikan suhu dan gelombang panas disebut sebagai penyebab bunga mekar di Antartika. cuaca yang memanas juga dapat menyebabkan spesies invasif mengambil alih benua dan mengusir tanaman asli. Dampaknya yaitu menimbulkan efek domino dalam skala yang lebih besar, mengganggu keseimbangan lingkungan dan ekosistem setempat.

Pesisir dan dataran rendah

Daerah pantai akan kian rentan terhadap naiknya permukaan air laut dan erosi pantai. Kerusakan pesisir ini sendiri kemudian akan diperparah oleh berbagai tekanan manusia di daerah pesisir. Diperkirakan pada tahun 2080 nanti sekitar jutaan orang akan terkena banjir setiap tahun diakibatkan oleh naiknya permukaan air laut.

Resiko terbesar yang akan dihadapi adalah padat penduduknya area di dataran rendah dengan tingkat adaptasi yang rendah. Selain itu sesungguhnya penduduk yang paling terancam ialah yang berada di Afrika dan delta-delta Afrika, Asia serta para penduduk yang bermukim di pulau-pulau kecil.

Pangan dan Hasil Hutan

Sebagian tanaman sendiri sangat mungkin hancur, hingga kian sulit menghasilkan tanaman pangan yang baik. tingkat kesuburan sebagian tanah yang berkurang juga membuatnya tak dapat lagi dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Efeknya terhadap petani adalah kian sulitnya mendapatkan makanan.

Sehingga sebagian dari warganya kemudian terpaksa harus berpindah ke area lain. Petani-petani nantinya menjadi harus berebut untuk mendapatkan lahan yang subur. Sementara untuk area hutan dimana sebagian besar wilayah Kalimantan kemudian terdiri dari hutan penghasil kayu, makanan, serta produk-produk lainnya, sebut saja rotan.

Hutan juga turut membantu dalam mencegah terjadinya polusi air hingga menghambat terjadinya erosi. Hutan membantu menyimpan pasokan air hal ini dikarenakan hutan akan menyerap air hujan pada musim penghujan dan membantu melepaskannya di musim kemarau. Hutan berfungsi sebagai rumah bagi banyak hewan liar, mulai dari serangga, burung, hingga berbagai tanaman.

Keanekaragaman hayati ini sendiri sangatlah penting bagi sistem alami yang kemudian akan membuat lingkungan berfungsi dengan baik. Terjadinya perubahan iklim  akan memberi dampak yang buruk pada kondisi hutan, tak hanya itu jumlah makanan serta produk hutan pun akan terus mengalami penurunan. Manusia yang menjual hasil hutan menjadi kian merugi.

Selain itu Fungsi hutan dalam hal pengatur sistem hidrologi dan penyaring air akan kian melemah. Kuantitas air tanah juga akan berkurang dengan kualitas air yang terus menurun. Dengan terus berkurangnya keanekaragaman hayati, sistem alami tak lagi berjalan secara efektif. Tanaman akan kian menderita hal ini dikarenakan perubahan iklim yang juga meningkatkan jumlah penyakit dan hama.

Upaya yang Dapat Dilakukan untuk Menanggulangi Perubahan Iklim

Meski tingkat emisi GRK terus meningkat, namun terdapat juga banyak peluang untuk menguranginya. Salah satunya adalah dengan melalui perubahan pola konsumsi dan gaya hidup. Berikut ini beberapa rekomendasi kebijakan  dan instrumen yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi GRK di bumi, seperti diantaranya:

1. Sektor Energi

Pada sektor energi yang bisa dilakukan adalah mengurangi subsidi bahan bakar fosil, Pajak karbon yang digunakan untuk bahan bakar fosil, serta menggalakan kebiasaan menggunakan energi terbarukan, tak lupa penetapan harga listrik bagi energi terbarukan, juga subsidi bagi para produsen

2. Sektor Transportasi

Pada suatu sektor transportasi adalah dengan menggalakan penggunaan biofuel, mewajibkan penggunaan bahan bakar dengan standar CO2 untuk alat-alat transportasi di jalan raya, STNK, Pajak unstuck plebeian endbrain, tarif penggunaan jalan serta parker. Tak lupa juga merancang suatu kebutuhan transportasi dengan sebelumnya melalui regulasi penggunaan lahan dan perencanaan infrastruktur yang baik, terakhir adalah berupaya lebih memilih menggunakan transportasi tak bermotor serta menggunakan fasilitas angkutan umum.

3.Sektor Industri

Memberlakukan standar pada subsidi, pajak untuk kredit juga perjanjian sukarela. Pada sektor pertanian sendiri sebaiknya diberikan Insentif finansial serta regulasi-regulasi yang akan memudahkan dalam memperbaiki manajemen lahan, irigasi yang efisien, penggunaan pupuk serta mempertahankan kandungan karbon dalam tanah.

4.Sektor Kehutanan

Insentif finansial dalam hal internasional juga nasional memiliki berbagai tujuan diantaranya mempertahankan lahan hutan, manajemen hutan, memperluas area kehutanan, hingga mengurangi deforestasi atau penebangan liar yang kerap terjadi. Regulasi pemanfaatan lahan serta penegakan regulasi tersebut.

Melindungi dan memulihkan hutan tropis. Tanam triliunan pohon untuk meningkatkan ketahanan pangan, menyelamatkan keanekaragaman hayati, membantu mengurangi CO2, membuka mata pencaharian serta menolong ekonomi pedesaan.

Dalam melakukan hal ini, sangat perlu peningkatan investasi yang gunanya mengurangi separuh pembabatan hutan tropis pada tahun 2020, menghentikan deforestasi secara global pada tahun 2030 serta mengumpulkan sekitar US$ 50 miliar per tahun dalam kebutuhannya mencapai target 350 juta hektar hutan serta restorasi bentang alam di tahun 2030 sejalan dengan berlangsungnya Bonn Challenge. Hingga saat ini, 168 juta hektar restorasi kemudian telah dijanjikan oleh 47 negara. Sangat perlu menanam lebih banyak pohon di padang rumput juga lahan tanah pertanian tak lupa pentingnya pemulihan lahan gambut.


-LukkimX2





Komentar